oohhh naaaaaaammmmmmmmmmmmmmmm :/
jaket merah -dan sebuah penyesalan :’)
June Wish
1. Bisa ngerjain UKK dan dapat nilai yang bagus
2. Naik kelas, nilai di rapot harus naik semua
3. Utang puasa lunas
4. Liburan bareng temen kemana gitu, ke luar kota juga boleh hihi
5. Bisa ketemu wildan
Semoga bisa tercapai semua di bulan Juni :)
aamiinn……
—DIA
Pernahkah kalian menyesali takdir yang telah terjadi ?
Pernahkah kalian merasa bodoh dan benci dengan apa yang telah di jalani ?
Pernahkah kalian berdoa agar waktu dapat kembali ?
—ya, aku pernah.
Aku termenung menatap hamparan hijau di depanku. Sebuah taman yang indah dengan air mancur di tengahnya. Bahkan bau tanah basah sehabis hujan tadi masih bisa kurasakan. Ah, kurasa aku begitu merindukan tempat ini. Ya, dulu –tepatnya 10 tahun lalu, ketika aku masih mengenakan seragam putih abu-abu dengan kaca mata tebal yang setia bertengger di atas hidungku, aku dan dia sering mengunjungi tempat ini. Entah hanya sekedar melepas lelah sepulang sekolah, bermain, bercanda, juga saling bercerita hingga senja memutusnya. Aku terlalu mengenal dia, sejak pertama aku dan dia berkenalan –saat MOS pertama tempatku bersekolah, aku tak pernah berpisah darinya. Kelas yang selalu sama, mebuat persahabatan semakin erat terukir tanpa sadar di hatiku. Hingga kata cinta itu terurai.
Memoriku kembali mengenang saat itu. Telingaku seperti mendengar kembali bisik lembutnya –yang entah mengapa tak pernah ku dengar sebelumnya. Ya, dulu mungkin aku terlalu buta untuk melihat sebersit cinta di matanya. Aku menuli dari semua yang keluar dari mulutnya. Bahkan aku tak pernah memikirkan rasa apa yang tumbuh di hatiku untuknya. Hingga aku pergi, meninggalkan hati –yang baru saat ini aku sadari- satu-satunya yang mampu membuat ceritaku lebih berarti.
“maaf, tapi aku harus pergi. Aku akan melanjutkan pendidikanku, meninggalkan tempat ini dan kamu. Aku tak bisa lagi terus disini menemanimu”
“tapi aku bersedia menunggumu”
“sampai kapan? Aku bahkan tak yakin aku akan kembali”
“tapi aku yakin. Kau pasti kembali. Untukku. Untuk kita.”
“mengapa?”
“karena aku menyayangimu. Lebih dari ikatan persahabatan yang selama ini kau banggakan”
“aku bahkan tak yakin dengan apa yang kau katakan, tapi yang aku tahu, jarak akan memakan habis rasa sayangmu, percayalah”
“apa kau tak memiliki rasa sayang sebesar rasa sayangku?”
“ah, ayolah. Aku menyayangimu, karena kau satu-satunya sahabat yang mengerti aku”
“seharusnya dari awal aku tahu. Baiklah, aku tak akan lagi memaksamu mendengar perkataan konyolku. Mungkin hatiku terlampau salah telah memilihmu, bahkan untuk percayapun kau tak mau. Tapi perlu kau tau, saat ini kau segalanya untukku. Selamat tinggal” perlahan sosoknya menjauh, meninggalkanku yang berdiri mematung –belum mampu mencerna apa yang barusan terjadi. Dia –sahabatku, mengatakan cinta, lalu pergi dengan kalimat –yang entah mengapa membuatku ragu dengan keputusanku. Setetes bening mengalir di pipiku tanpa aku sadari. Terburu-buru kuhapus air mata itu dengan kasar, menolak penyesalan yang mulai menyergap dihatiku. “maafkan aku”
Aku kembali menatap ke sekeliling, perlahan senyumku terukir disana. Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi aku akan menebus kebodohan terbesarku dimasa lalu. Aku sudah bertekad saat dia datang nanti, aku akan mengatakan padanya –sebuah rasa yang dulu belum sempat aku sadari. Aku akan meminta maaf, dan menyerahkan seluruh sisa nafasku untuk bersamanya. Menjalin ikatan yang belakangan ini begitu aku impikan –bersanding dengannya. Senyumku merekah semakin lebar saat ku lihat dia melangkah memasuki taman ini. Dengan senyum tipis yang terukir di wajah putihnya –yang tentu saja sangat mempesona. Oh, senyumnya memang masih sama –masih senyum yang dulu pernah aku abaikan, tapi lihat, kini dia begitu berbeda. Tinggi, tampan, matanya yang dingin tapi tetap memancarkan kelembutan, bahunya yang kokoh –bahkan aku membayangkan suatu saat nanti dapat bersandar disana. Dewasa. Ya, itulah penggambaranku saat ini ketika melihatnya. Bisa ku rasakan jantungku berdetak lebih cepat saat dia semakin mendekat dan akhirnya memutuskan untuk duduk disampingku. Memandangku dengan tatapan yang tak mampu ku artikan, membuatku tak bisa berkata-kata –membuyarkan kalimat yang sedari tadi telah ku rancang ketika bertemu dengannya.
“hai”
“h-hai juga”
“ah, akhirnya kau kembali juga. Lama sekali tak bertemu denganmu. Rasanya aku rindu mendengar suaramu. Kau tau, aku terkejut ketika tadi pagi kau mengirimkan pesan untuk bertemu disini”
“ya, aku kembali. Apakah kau senang kini aku ada disini?”
“tentu saja. Apalagi kau datang disaat yang tepat”
“oh ya? Bagaimana bisa?”
“kurasa aku belum memberitahumu ya? Aku akan menikah minggu depan. Aku ingin memastikan kau bersedia datang ke pestaku. Dan kau tahu? Aku sangat bahagia saat ini. Lihatlah, aku bahkan tak bisa berhenti tersenyum. Dia sangat menyayangiku seperti aku yang juga begitu menyayanginya”
“ah, selamat ya, aku bahagia mendengarnya. Dan ya, kurasa aku akan datang”
“baiklah, semua pasti akan terasa sempurna. Oh tapi maaf, aku tak bisa berlama-lama disini. Aku harus menemani calon pengantinku. Kau tau, dia sangat cerewet sepertimu”
“ya pergilah, aku tak apa”
“terima kasih, aku tunggu kedatanganmu ya” aku menatap nanar sosok yang menjauh itu. Kembali tetes bening ini mengalir, sama seperti saat itu. Tapi kini yang aku tahu, penyesalan memang telah tumbuh dalam hatiku. Aku terlanjur menyayat luka pada hatiku sendiri, tepat saat aku meninggalkannya dulu. Membiarkan dia memperoleh kebahagiaannya tanpa bersamaku. Ya, ini semua karena aku.
Untuk dia yang begitu ku sayangi.
Untuk dia yang masih setia ku cintai.
Untuk dia yang terus tumbuh dan menganak dalam hati.
Untuk dia yang pernah begitu ku lukai.
Untuk dia, yang terlambat aku raih.
Andai saja waktu dapat ku putar kembali, tak akan pernah ku siakan hatimu untuk yang kedua kalinya.
Andai saja semua dapat kembali lagi, tak akan pernah aku pergi barang satu hela nafaspun dari sisimu.
Andai saja semua masih disini, tak akan sedalam ini penyesalan berdarah yang menikam jantungku.
Andai saja ..
Untuk dia –kamu. Ya, kamu yang tak sadar akan sepucuk surat ini.
Penyesalan ini belum hilang barang sedetikpun, bahkan dalam tidurku.
Kau begitu menyiksaku, bahkan aku lebih suka kau membunuhku.
Berbahagialah kau bersamanya, tak akan ada lagi namaku dalam sejarah perjalananmu.
Aku berjanji itu, tepat ketika kau menyandingnya disisimu.
Karena kau tak pernah tau, aku berdarah. Sangat. Dalam.
Untuk dia –masa laluku
kesalaham memberiku pengalaman
mereka memberiku ketegaran
dari mereka aku bisa mengerti indahnya senyum ikhlas
dari mereka aku bisa mengerti indahnya rasa sabar
dari mereka, kekuatan ini ada
terima kasih, mereka :’)
ini cerita tentang aku
bukan mereka, hanya aku dan jalan pikiranku
ini cerita tentang hatiku
tentang keraguan dan rasa gundahku
ini cerita tentang hitamku
semua sisi pekatku, dan gelap yang tak berujung
apa yang salah dengan hidup ini? apa yang salah dengan pemberian Tuhan yang seharusnya ku syukuri? bukankah semua sama di matanya?
mungkin sistem kerja otakku terlalu berbeda, tapi apa mereka berhak mencaci yang bahkan Tuhan-pun tak menghakimi? mengepa mereka mencampuri apa yang seharusnya ku simpan sendiri? apa mereka tak puas dengan pemberian-Nya? apa mereka tak berfikir bahwa aku sama saja dengan mereka?
Tuhan, apa salahku? bukankah aku selalu di peluk-Mu? bukankah Kau mengasihiku? sama seperti Kau mengasihi mereka?
ampuni aku Tuhan.. sama seperti ketika Engkau mengampuni mereka..
Selamat Pagi Kamu :’)
selamat pagi kamu
masih ku lantunkan indah namamu di sujudku subuh tadi
ku kenang lagi teks indahmu di pagi dulu
sebelum kini tersadari, semua hilang dengan mudahnya
selamat pagi kamu
masih kamu yang pernah menjadi sejarah dihatiku
tentang baik kata yang pernah begitu ku tunggu
dengan bualan yang berbalas canda tulusku
salamat pagi kamu
terima kasih untuk harapan yang begitu palsu
kau biarkan ku jatuh tanpa ada tangan yang menarik ku
bercumbu dengannya bidadari hatimu
ah..
bolehkah kau ku peluk sebelum aku membunuhmu?
selamat pagi kamu
sore nanti aku tak lagi mengenalmu
selamat tinggal malaikatku

